My Hairomorphosis
*the ‘saya-anda’ speak mode: ON*
Hairomorphosis,,Kata yang aneh, anda bilang?? yah,,memang saya suka menciptakan terminologi versi-sendiri yang aneh. tidak usah repot-repot mencari arti kata tersebut di kamus. Kecuali suatu saat nanti saya beralih dari dokter gigi menjadi ahli bahasa, kemudian membuat kamus saya sendiri.
Bukannya karena saya memiliki gangguan kepribadian narsisistik (coz, let’s face it: we ALL have some narcissist quality inside!), saya kemudian membuat tulisan bertajuk hairomorphosis ini. Rasa hati tergelitik dan iseng menulis hair issue, karena saat saya bangun tadi pagi: saya menatap a girl in the mirror yang berambut aneh lagi berantakan. so weird..dan lalu menyadari,,oh yeah,,that’s me!! haha. Itung-itung bernostalgia..menapak tilas sejarah perjalanan rambut saya ini dari dulu hingga sekarang.
Phase 1: Rambut ala The Beatles
Pernah liat rambut ala The Beatles era late 60-an?? dimana Paul, John, Ringo, dan George semua berambut seragam: rambut tipis-lurus beroutline seperti jamur merang bulat, dengan poni menutupi jidat sebatas alis. Sekarang kembali dipopulerkan oleh si duet-kembar (apakah mereka benar2 kembar??) di band The Changchuters? Yep, saya pernah berambut seperti itu. The year was 1990, saat saya masih duduk di bangku TK. Yep,,dulu rambut saya lurus dan tipiis,,saking khawatirnya akan derajat ketipisan rambut saya itu,, Ibu tercinta lantas mendadak memutuskan untuk bercocok tanam lidah buaya di rumah,,dan setiap Sabtu sore,,rambut saya selalu diolesi getah sang lidah buaya,,dengan amat sabar dan telaten sambil bertukar cerita, memberi wejangan hidup, bagaimana bertingkah laku, dan bagaimana caranya supaya saya bisa mencapai cita-cita: menjadi presiden RI wanita yang kedua tahun 2014 (hm,,mulai ngobrol ngawur..)
Phase 2 : Tom-Boy Era
Fase ini terjadi pada era mid-90′s. dimana saya telah menjadi siswi berseragam putih-merah. ‘kerja-keras’ Ibu dalam upaya menebalkan rambut saya telah menuai hasil: bahkan melampaui target! bukan hanya bertambah banyak..tapi rambut saya juga bertambah tebal, dengan diameter penampang per-helai yang lebih besar, dan dengan derajat kekakuan hanya bisa dikalahkan ijuk (hm,,mungkin seharusnya saya harus mempertimbangkan masak-masak sebelum membuka aib masa-SD saya ini). Well,Bapak saya pun memberi solusi: “Kamu potong pendek aja, Din…Model cowok! kan enak tuh isis..” (isis= segar/ adem dalam bahasa Jawa, BUKAN dewi kesuburan dari Mesir, red.) sejurus kemudian beliau pun mengantarkan saya ke tukang potong. Dan tanpa ba-bi-bu, langsung menginstruksikan sang kapster untuk ‘melaki-laki-kan’ rambut anak perempuan satu-satunya ini. Dan sang anak perempuan pun pasrah, dalam kuasa kapster ber-gunting tajam. Berkat potongan rambut ini, saya dijuluki si Bondol for the rest of my elementary school life. I’m fine by that, actually.. Kinda cool..
Phase 3: Pinggir atau Samping??
Saat SMP. Ini fase penting dalam persejarahan rambut saya. the moment of truth..yang mengundang dilema terbesar..life changing experience. Dimana saya harus menjawab the big question: apakah saya harus merubah belahan rambut saya dari belah tengah..menjadi belah pinggir??? (huuu..lempar LCD laptop atau PC anda!!!).
Saya harus mengambil keputusan besar itu lantaran insiden pelemparan-pecahan botol-dari lantai dua-yang-menghantam-jidat-saya itu. Untungnya bekas luka 3 jahitan itu benar2 pada garis midline antara jidat dan rambut saya. Jadi, daripada salah dikira Harry Potter di jalan,,saya akhirnya memutuskan untuk menutupi sedikit bekas luka itu dengan poni yang dibelah samping kanan! Kenapa kanan?? karena saya yakin..kanan adalah arah menuju surga (halah!!).
Phase 4: Mendadak Gondrong
Suatu kali di masa akhir SMP,,saya berfikir: Saya ini wanita, wanita sudah kodratnya berambut panjang (feminist: “Kata siapa, mbakk??”). jadi..mungkin sudah waktunya saya berambut panjang!!! Lalu,,bagai Joan of Arc yang mendapat wangsit dari surga..saya langsung bertekad memanjangkan rambut. no matter what!! rasa gerah dan beberapa helai rambut yang bercabang tidak akan bisa menghalangi niat saya berambut panjang ala bintang sampo di TV (eww..), Kemudian, bermodalkan tekad sekuat baja-otot kawat-tulang-besi (sori Oom Gatot,,saya pinjem kalimat trade mark-nya!!), kira-kira setahun kemudian, jadilah saya berambut gondrong sepanjang bahu. Dan saya akhirnya bisa merasakan kenikmatan para wanita yang belum pernah saya alami sebelumnya (ehm,,ini ngomongin apa sih??); yaitu mengikat rambut ke belakang atau menggulungnya ke atas! Merasakan semilir angin berhembus melewati tengkuk leher yang terekspos,,memang merupakan suatu sensasi tersendiri!
Phase 5 : Dora the Explorer Rules!!
Di masa pertengahan kuliah, saya mulai gerah dan marah..(hey, kata-katanya berima,lho!!) hehe,,ngga deng..yang benar: saya dilanda kejemu-an tingkat tinggi. hair-wise..dimana masalah rambut sudah makin menggunung: kering-kasar, bercabang, super sumuk (sumuk= gerah dalam bahasa Jawa, BUKAN pelesetan nama salah satu olahraga khas Jepang, red.). Jadi,saya memutuskan untuk melakukan perubahan yang dramatis: potong pendek (lagi)!! Disinilah awal perkenalan saya dengan seorang kapster-straight-ramah-dan-baik hati bernama Mas Yanto. Setelah menganalisis ke ‘ancuran’ kondisi rambut dan mendengarkan keinginan saya waktu itu, dia mengangguk tanda mengerti. Setelah rambut saya dicuci dan siap didalam balutan apron lebar,,Mas Yanto kembali menatap saya kemudian bertanya dengan suara bergetar..
“Din,,apakah kamu benar siap dan rela rambut kamu dipotong pendek??”
..saya pun terdiam, penuh pikiran gelisah dan kalut (adegan ini didramatisir, red.), lalu saya menjawab..
“siap,,potong aja mas..” and the rest is history! Beberapa menit kemudian, secara perlahan..mulai tampaklah ‘hasil karya’ mas Yanto di kepala saya itu: rambut BOB sepanjang leher dengan poni pendek sebatas alis belah kanan. oww..lumayan juga. Tapi dasar memang saya ini public figure,,ga bisa take a break sedikit, eh langsung gaya rambut ini serta-merta dicontek Dian Sastro, bahkan Victoria Beckham dan Kalie Holmes..yah,,nasib!
Esoknya di kampus,,sempat terjadi kehebohan. Dan mendadak saya punya nickname baru: Rambut Helm, Dora (ups,,bahkan tokoh kartun Dora The Explorer pun mencontek model rambut saya!!), Bobby, SwesBob, dan lain-lainya. Yah, sah-sah aja sih.. Asal jangan panggil saya Natalie Portman. Emang mirip sih…tapi, sori..itu bukan saya. (Pembaca: “eww…”)
Haha..so far i’m enjoying this hair-do..karena paling praktis, dan ekonomis! So,,trends can come and go,but my BOB stays forever (umm..at least for now..). Meskipun terkadang bentuknya jadi ancur ga jelas, seperti halnya sekarang..but i love my hair! Cheers!!